Evolusi False Nine Ala Matador
Evolusi False Nine Ala Matador
Taktik dalam permainan sepakbola adalah seni. Dengan taktik itulah
permainan menjadi hidup. Tak hanya memanjakan mata, seni dalam sepakbola
meninggalkan imajinasi dan cerita sepanjang masa.
Totaal voetbal-nya Belanda dan
catenaccio milik Italia adalah dua mahakarya para jenius bola. Sebuah warisan turun temurun yang menjadi inspirasi sepakbola modern.
Taktik dan strategi baru menjadi perbincangan hangat para penikmat bola
dalam ajang Piala Eropa 2012. Adalah Spanyol yang mengawalinya. Datang
ke Ukraina-Polandia dengan status juara bertahan, La Furia Roja
menurunkan
starting eleven minus striker pada pertandingan
perdananya saat melawan Italia. Tampil tanpa penyerang murni, tim
Matador mengandalkan amunisi gelandang terbaiknya.
El Jugador
semacam Fernando Torres, Alvaro Negredo dan Fernando Llorente harus rela
menyerahkan perannya ke gelandang Barcelona Cesc Fabregas.
Mantan kapten Arsenal itu diplot pelatih Vicente Dl Bosque sebagai
false nine atau
deep lying forward
untuk membuka ruang bagi rekannya melakukan serangan. Laga yang
berakhir imbang 1-1 itu meninggalkan sebuah pertanyaan. Apa maksud Del
Bosque bermain tanpa penyerang?
Embrio
false nine sebenarnya sudah muncul enam dekade lalu,
tepatnya 25 November 1953. Saat itu, Inggris meladeni Hungaria pada
partai persahabatan di stadion Wembley. Pada pertandingan yang dikenal
dengan "match of the century" itu, Hungaria menang dengan skor telak
6-3. Untuk pertama kalinya dalam sejarah,
The Union Jack dikalahkan oleh tim non-Britania di kandang sendiri.
Inggris yang waktu itu merasa sebagai aristokrat sepakbola hanya terpana
melihat bagaimana pola permainan kaku mereka diacak-acak oleh strategi
pelatih Gusztav Sebes. Hungaria yang sempat dijuluki "tim dari luar
angkasa" dimotori Ferenc Puskas, Sandor Kocsis, Zoltan Czibor dan Jozsef
Bozsik. Tapi yang menjadi pusat perhatian dan menyulut kekacauan di
areal pertahanan Inggris adalah pemain bernomor 9 yaitu Nandor
Hidegkuti. Lazimnya pemain bernomor 9 pada masa itu dipasang sebagai
penyerang tengah. Dia berfungsi sebagai
finisher, tapi pergerakannya yang tak lazim membuat barisan pertahanan Inggris kalang kabut.
Hidegkuti tidak berdiri statis di depan, tapi turun jauh hingga ke
tengah lapangan untuk menjemput dan mendistribusikan bola. Dia membuat
bek Harry Johnston yang ditugaskan pelatih Walter Winterbottom untuk
menjaganya pusing tujuh keliling. Hungaria mencetak empat gol di babak
pertama dan Johnston dibuat frustrasi karena tak pernah menyentuh bola.
Hidegkuti yang seharusnya dia kawal turun jauh ke tengah sehingga pemain
Hungaria tersebut mempunyai banyak ruang untuk berkreasi.
Di babak kedua, Johnston ditugaskan untuk mengikuti pergerakan Hidegkuti
jauh ke tengah. Dampaknya lebih dahsyat. Tertariknya satu bek ke luar
menyebabkan lini pertahanan Inggris jadi terbuka dan Puskas serta Kocsis
dengan senang hati mengeksploitasi ruang yang ditinggalkan Johnston.
Hidegkuti mencetak
hattrick pada laga itu.
Secara definisi,
false nine diartikan sebagai penyerang terluar
yang turun ke tengah untuk mengacaukan konsentrasi pertahanan lawan.
Para pemain menunggu dan menunggu dengan keras kepala. Mereka dengan
asyiknya bermain dan menahan godaan untuk menembak bola ke gawang lawan
sampai ada momen yang tepat untuk mengeksekusi sebuah gol.
False nine menyebabkan tim yang menggunakannya terlihat bermain tanpa seorang penyerang.
Taktik itu bisa menjadi mimpi buruk bagi pertahanan lawan karena sulit
untuk diantisipasi. Sebuah keadaan yang dilematis akan dialami bek
lawan, bertahan di posisinya atau mengikuti pergerakan "penyerang palsu"
itu. Jika mengikuti pergerakannya ke tengah, maka garis pertahanan akan
menjadi tinggi sehingga rentan terhadap umpan terobosan ke sayap.
Penulis sepak bola ternama, Jonathan Wilson, mengatakan bahwa taktik
sepakbola adalah seni memanipulasi ruang dan
false nine adalah salah satu bentuk manipulasi ruang yang terbaik.
Del Bosque berhasil mengejawantahkan
false nine ala Gusztav Sebes
itu. Korbannya adalah tim Ayam Jantan Perancis. Les Blues dibuat tak
berkutik saat meladeni Spanyol pada laga perempatfinal Euro 2012.
Fabregas yang difungsikan sebagai "striker palsu" sukses membuat lini
belakang Perancis ling-lung.
Berawal dari aksi Andreas Iniesta yang memberikan umpan kepada Jordi
Alba. Bek kiri Valencia itu adu cepat dengan Debuchy yang terjatuh dekat
kotak penalti. Konsentrasi bek Adil Rami dan Anthony Reveillere
terfokus pada pergerakan Fabregas. Kedua bek sentral itu tidak melihat
pergerakan Xabi Alonso dari lapangan tengah. Melihat posisi kosong, Alba
kemudian mengirim umpan silang ke sisi kanan dimana Alonso dengan bebas
melepaskan sundulan yang menggetarkan jala Lloris. Alonso kemudian
melengkapi derita Perancis dengan gol keduanya melalui titik putih di
penghujung laga.
Pelatih Perancis Laurent Blanc mengakui bahwa timnya kesulitan
menghadapi permainan Spanyol. Apalagi La Furia Roja ternyata kembali
memakai strategi
false nine di lini depan. Blanc mengatakan
bahwa timnya sudah bersiap dengan kemungkinan Spanyol memainkan
Fabregas. Namun, dia mengakui timnya akan lebih mudah menghadapi
strategi Spanyol yang tidak menggunakan
false nine.
"Dengan memainkan Torres, bek tengah kami hanya akan fokus pada satu
pemain, ketimbang harus mengkhawatirkan empat orang yang berada di lini
tengah", katanya.
False nine adalah fenomena di ajang Piala Eropa kali ini. Meski
terkesan aneh dan membosankan, taktik ini menjadi pakem yang bakal
sering dimainkan dalam sepakbola modern.